Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Thursday, September 10, 2009

“Pengelolaan Danau Kaskade: Matano - Mahalona - Towuti”

Makalah Bupati Luwu Timur - H. Andi Hatta Marakarma

pada “KONFERENSI DANAU-DANAU DI INDONESIA - I “

Sanur Paradise Plaza Hotel Bali, Kamis, 13 Agustus 2009

“Pengelolaan Danau Kaskade:
Matano - Mahalona - Towuti”
(Kompleks Danau Malili)

Para Peserta Konferensi yang saya hormati,

Pertama-tama, perkenankanlah saya untuk menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pihak Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia, yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menyampaikan beberapa pokok pikiran yang terkait dengan pengelolaan “Kompleks Danau Malili”, yang tempatnya secara utuh berada di daerah kami, Kabupaten Luwu Timur, dimana saya diperkenankan memaparkannya dalam judul topik “Pengelolaan Danau Kaskade Matano - Mahalona - Towuti”.

Secara berterus terang, dapat diungkapkan, bahwa saya mengalami sedikit kegamangan ketika mencermati topik yang diberikan, dimana antara lain, saya diperkenalkan kepada istilah “kaskade” yang bisa dikatakan - bagi saya yang terbilang awam dalam dunia akademis geologis - cukup membingungkan.

Berbagai upaya telah saya lakukan, untuk menemukan maksud dari keterkaitan istilah tersebut dengan persoalan yang subtansial dengan masalah danau-danau secara umum, namun tidak banyak yang diperoleh selain daripada “saling keterkaitan yang saling menunjang”. Oleh karena itu, saya memohon maaf kepada forum yang terhormat ini, jikalau ternyata yang dimaksudkan oleh penyelenggara seminar ini, adalah lebih atau bernada lain dari pengertian yang saya dapatkan dari berbagai sumber.

Akan tetapi, lebih dari itu, saya juga menangkap maksud yang terdalam dari topik tersebut, antara lain tentang bagaimana mengelola suatu kawasan danau-danau bersifat unik yang secara keseluruhan ataupun sebagian besar kawasan inti sistemnya berada dalam wilayah daerah kami, Kabupaten Luwu Timur. Dengan demikian, saya memastikan diri untuk hadir dan berupaya memaparkan apa yang kami rasakan, kami pikirkan dan sedang kami jalankan, untuk kemudian berharap mendapatkan sesuatu yang berharga sebagai bahan penting, guna pengelolaan Kompleks Danau Malili di masa yang akan datang.

Sebagai sistematika dari pemaparan ini, saya akan memulai melukiskan latar belakang tentang Kompleks Danau Malili, dengan merujuk dari berbagai kajian dan terbitan yang pernah ada mengenai sejarah geologis dan temuan para ahli tentang kondisi flora-fauna dan lain-lainnya yang begitu membantu kita semua memahami kenyataan; selanjutnya akan saya gambarkan sejarah pemerintahan berikut kondisi sosial budaya daerah dan wilayah setempat; kemudian akan diuraikan beberapa problema pokok yang kami rasakan dan kami alami; untuk pada akhirnya ditutup dengan kesimpulan dan saran-saran.

Akhirnya, perkenankanlah saya menyampaikan harapan yang besar terhadap forum yang terhormat ini, untuk bisa mendapatkan masukan-masukan berharga, sebagaimana kami pun juga berharap dapat memberikan usulan-usulan kepada para pihak yang terkait dan berkepentingan, demi kepentingan bersama di masa depan.

Para Hadirin yang terhormat,

Tentang “Kompleks Danau Malili” seringkali muncul dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab adalah menyangkut lokasi keberadaannya dalam peta rupa bumi, atau dimanakah letaknya dalam peta dunia dan nusantara? Kompleks danau ini, secara keseluruhan ataupun sebagian besar kawasan inti sistemnya berada dalam wilayah administratif pemerintahan daerah Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan, yang secara kelakar sering dimudahkan orang dengan sebutan daerah di “kawasan selangkangan” Pulau Sulawesi.

Selain dari Danau Matano, yang luasnya 16.408 hektare, juga dikenal sebagai danau terdalam kedelapan di dunia dan danau terdalam di Asia Tenggara, terdapat Danau Mahalona dengan luas 2.440 hektare dan kedalaman 60 meter, serta Danau Towuti dengan luas 56.108 hektare atau danau terluar kedua di Indonesia dan kedalaman diperkirakan sekitar 200 meter. Ketiganya merupakan ekosistem air tawar yang mengalir ke Sungai Larona dan Malili. Ada dua danau kecil lain dalam kawasan yang sama tersebut, yakni Danau Massapi dan Danau Wawantoa.

Letaknya berada pada sisi timur wilayah kabupaten, membujur dari arah Barat Laut hingga ke Tenggara. Kompleks Danau Malili, akhir-akhir ini ramai diakui dunia sebagai kawasan yang menyimpan sejumlah fenomena keunikan geologi, keragaman hayati, budaya, peninggalan arkeologi dan panorama.

Kisah geologi tentang hal ini, menurut berbagai terbitan, telah mengundang minat dan perhatian kalangan para ahli, bermula sejak tiga dekade lalu, ketika sejumlah peneliti tertarik dan memandang kagum kepada batuan yang tersingkap di tepi jalan raya yang tengah dibangun.

Penelitian yang dilakukan secara intensif, kemudian memberikan penjelasan akan adanya fenomena “danau purba” yang menjadi monumen pembentukan Pulau Sulawesi. Dalam sejarah geologi yang sangat panjang, pulau yang berbentuk karakter huruf “K” ini terbentuk sebagai hasil dari tumbukan jalur daratan yang mengapung sebagai suatu proses tektonik.

Penelusuran berlanjut, hingga mengarahkan pada suatu kesimpulan mengenai adanya “pertemuan tubrukan” antara dua lempeng besar yang membentuk Pulau Sulawesi, berada di sekitar kompleks danau tersebut, yang dikenal dengan istilah “Sesar Matano”. Proses pembentukan daratan baru dapat dipastikan membawa dampak, yaitu keadaan ekologi yang unik. Dan, pada faktanya saat ini, setiap lempeng mewariskan jejak yang masih dapat ditemukan hingga kini.

Sejumlah rujukan pada sejumlah studi sebelumnya, telah menambah daftar keunikan hayati wilayah ini, terutama setelah mencermati adanya temuan yang diproklamirkan kira-kira 150 tahun silam oleh Alfred Russel Wallace, seusai melakukan perjalanan ilmiah di Nusantara, yang dikenal dengan Garis Wallacea (Wallacea Lines), berupa adanya garis maya yang membagi wilayah fauna bagian barat dan timur melalui laut dalam.

Menurut pandangannya, sejumlah hewan di wilayah ini tidak ditemukan di kawasan daratan Asia dan Australia. Dia membuat garis imajiner dari utara di sebelah timur Filipina melalui Selat Makassar sampai selatan antara Pulau Bali dan Lombok. Sebanyak 125 ribu spesimen dikumpulkan Wallace selama penelitiannya di Nusantara dari 1854 sampai 1862. Hasil perjalanannya itu ditulis dalam buku berjudul The Malay Archipelago. Berdasarkan data fauna, dia menamainya sebagai Kawasan Wallacea atau Wallacea Region.

Batas kawasan ini di sebelah barat terbentang di antara garis yang ditarik Wallace mulai sebelah timur Filipina ke selatan melewati Selat Makassar hingga Selat Lombok. Batas sebelah timur terdapat garis Lydekker, yang ditarik dengan cara sama seperti Wallace berdasarkan kesamaan fauna, di sebelah barat Australia dan sebelah barat Papua.

Pemahaman para ahli tersebut, antara lain menyebutkan bahwa posisi Pulau Sulawesi memang sangat unik karena, selama sejarah geologi dalam dua juta tahun lalu, tidak pernah menyatu baik dengan Asia maupun Australia.

Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatera pernah menyatu dengan Asia dan jejaknya bisa terlihat dari jenis-jenis ikan yang sama pada sungai-sungai di ketiga pulau itu. Demikian pula Papua yang pernah menjadi satu kesatuan dengan Australia, yang terlihat dari kesamaan hewan berkantong (kanguru) di kedua kawasan itu.

Pada kesempatan lain, Peter E. Hehanussa dan Gadis S. Haryani, ahli limnologi dari LIPI menyebut tentang posisi Danau Matano sangat khas karena letaknya lebih rendah daripada permukaan laut. Peter memastikan sebagai gejala alam yang langka di dunia, yang hanya ditandingi oleh Laut Mati di Lembah Yordan, Yordania.

Para ahli, memang mengelompokkan Matano sebagai cryptodepression atau posisi dasar danau berada di bawah permukaan laut. Permukaan air danau ini berada pada 382 meter di atas permukaan laut, sedangkan kedalaman danau mencapai 588 meter. Artinya, dasar danau berada sekitar 200 meter di bawah permukaan laut.

Dari segi kedalaman, Matano merupakan danau terdalam kedelapan di dunia dan terdalam di Asia Tenggara. Usia Matano diperkirakan dua sampai empat juta tahun dan merupakan sebuah danau tektonik. Artinya, proses pembentukannya ditentukan peristiwa geologi berupa kejadian tektonik regional di daerah itu. Meski demikian, seluruh kolom air di Matano, mulai permukaan hingga ke dasar, tetap tawar. Bahkan kualitas airnya, menurut Peter, tergolong oligotrofik, yang berarti sangat bersih dan kandungan unsur nutriennya, yaitu fosfor dan nitrogen, rendah.

Peter dan rekan-rekannya pun pernah meneliti kejernihan danau ini dengan menggunakan “metode cakram” Secchi. Cakram berwarna itu diceburkan ke Danau Matano, yang luasnya 16.408 hektare, dan masih terlihat pada kedalaman 25 meter. Umumnya, di danau lain, sampai pada kedalaman danau hanya 1,5 meter, cakram itu tidak akan terlihat lagi. Di Danau Toba, alat ini masih terlihat hanya sampai pada kedalaman 8-11 meter.

Perhatian mengenai kawasan “Kompleks Danau Malili”, ternyata tidak hanya terhenti sampai di situ. Sejumlah kekayaan biologi telah menarik minat peneliti untuk melakukan penelitian lapangan lanjutan sejak tahun 1980-an hingga sekarang. Danau-danau yang termasuk dalam kawasan Malili (Matano, Mahalona, Towuti, Massapi dan Wawantoa) serta danau Poso di Sulawesi Tengah, menjadi sorotan dunia dalam “Simposium Internasional tentang Danau-danau Tua” yang diadakan pada tanggal 4 - 8 September 2006 di Berlin, Jerman.

Catatan Ristiyanti M. Marwoto dari Puslit Biologi LIPI yang mengikuti simposium bertajuk Speciation In Ancient Lakes (SIAL) IV tersebut, melukiskan begitu besar perhatian para peneliti untuk tetap melanjutkan kegiatan risetnya di danau-danau Malili dan Poso di Sulawesi.

Bahkan dalam kesempatan itu, telah dibentuk tim “Sulawesi” yang akan menyusun kumpulan hasil penelitian di Sulawesi, dalam bentuk buku panduan yang diharapkan bermanfaat bagi pemerintah Indonesia khususnya membantu dalam kegiatan konservasi di kawasan danau-danau tua (ancient) dan sebagai bahan acuan bagi kegiatan penelitian selanjutnya.

Dalam laporan Douglas Haffner, ahli limnologi dari Kanada, disebut juga sejumlah keunikan bahwa tidak seperti umumnya danau-danau purba lain yang memiliki spesies endemik sebanyak 40-50%, lebih dari 90% spesies di Danau Matano adalah spesies endemik, yang berarti bahwa spesies itu hanya ditemukan di tempat tersebut, tidak ditemukan di tempat lainnya. Menurutnya, Kompleks Danau Malili (Matano, Mahalona, dan Towuti) adalah satu-satunya danau purba di dunia yang terhubung satu sama lain. Yang menarik adalah spesies endemik di ketiga danau purba tersebut masing-masing unik dan berbeda.

Inilah juga mungkin yang menjadi dasar dari istilah “kaskade” yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Edisi Keempat, Depdiknas, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008, diartikan sebagai “deretan peranti yang bekerja berurutan satu dengan yang lainnya”. Menurut The Contemporary English Indonesian Dictionary - With British and American Pronunciation and Sepelling, Drs. Peter Salim MA., Penerbit Media Pustaka, Jakarta, Edisi ke-18, Maret 2008., kata cascade diartikan antara lain yang relevan, adalah: (1) sesuatu yang menyerupai air terjun; (2) rangkaian reaksi yang menyebabkan terjadinya sesuatu; dan (3) pengertian intransitif cascaded, cascading, cascades, adalah mengalirkan ke bawah.

Para ahli seperti Haffner pun berusaha mencari tahu guna memahami mengapa banyak spesies yang biasa hidup di banyak danau (yang sering disebut mereka sebagai “cosmopolitan species”) tidak ditemukan di danau purba ini. Hasilnya menyebutkan bahwa adanya kandungan kimia dalam air, dan karakter tanah merah yang kaya akan zat besi, diperkirakan berperan penting sebagai penyebab mengapa spesies lain diluar spesies endemik sulit bertahan hidup di Danau Matano.

Tentang pelestarian kepurbaan Kompleks Danau Malili, Haffner memberi rujukan sebagai acuan, yakni pengelolaan Danau Ohrid di Macedonia yang telah berstatus sebagai “World Heritage” (Warisan Dunia). Untuk menjadi danau milik dunia seperti itu, dibutuhkan komitmen semua pihak, termasuk dukungan masyarakat yang sungguh-sungguh. Pengelola Ohrid berfokus menjadikan danau mereka sebagai tujuan eko wisata, dan untuk mempertahankan keanekaragaman hayati spesies endemik, maka tidak dilakukan budidaya perikanan danau.

Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Fadly Y. Tantu, dari Fakultas Perikanan Universitas Tadulako Palu yang menuturkan pandangannya bahwa selama 10 tahun melakukan penelitian di dalam kompleks Danau Malili, ditemukan kurang lebih 20 jenis ikan introduksi.

Masuknya ikan luar ini antara lain, emas, nila, mujair, louhan, dikhawatirkan akan mengancam keberadaan ikan-ikan asli danau, dengan terjadinya persaingan makanan, predasi, penyakit hingga adanya perubahan habitat.

Akibatnya dalam jangka panjang ikan asli diprediksi akan hilang. Hasil survey Fadly menemukan adanya ikan eksotik dan kosmopolit Oreochromis mossambicus (mujair) yang melakukan aktivitas makan, kawin dan mengerami larva di habitat ikan-ikan endemik.

Ada juga ikan lauhan dengan lambung penuh berisi larva ikan dan sisik ikan, diduga yang dimakan adalah larva ikan endemik. Demikian juga salah satu spesies ikan endemik Oryziaz matanensis yang terserang penyakit. Kenyataan ini adalah indikasi awal adanya dampak dari kehadiran ikan eksotik terhadap ikan endemik di dalam kompleks danau ini.

Keunikan dan keindahan yang mempesona dari pelbagai sudut pandang mengenai Kompleks Danau Malili, meskipun telah banyak ditulis oleh para jurnalis yang datang berkunjung, ditambah dengan sejumlah publikasi dari para peneliti dan ilmuwan, tampaknya masih belum memadai untuk meletakkan posisi Kompleks Danau Malili pada posisi yang cukup mengundang perhatian seluruh pihak terkait dan berkepentingan untuk bersama-sama mengurus dan menata pengelolaan kompleks danau-danau itu dengan sebaik-baiknya.

Konsentrasi para ilmuan, selama ini juga lebih banyak memusatkan perhatiannya pada Danau Matano, meskipun diketahui bahwa dalam konteks ini, dua danau lainnya (Mahalona dan Towuti) juga adalah bagian dari suatu ekosistem yang saling terkait, saling menunjang dan terhubung antara satu dengan yang lainnya, selain dari dua danau lainnya (Massapi dan Wawantoa) yang memang berdiri sendiri.

Temuan dan publikasi yang ada selama ini, dirasakan belum tersosialisasi dengan baik kepada seluruh stakeholders (pihak-pihak terkait dan berkepentingan). Peletakan tanggungjawab untuk mengurus kompleksitas permasalahan yang ada selama ini, yang seakan-akan dibebankan ke pundak pemerintah semata, terutama kepada Pemerintah Daerah, memang bukanlah sikap yang arif, mengingat pemahaman kita semua mengenai segala keterbatasan yang dialami oleh pemerintah pada semua tingkatan.

Oleh karena itu, guna meningkatkan pemahaman bersama tentang Kompleks Danau Malili, demi upaya pengelolaan yang sebaik-baiknya, diperlukan intensitas penelitian dan publikasi yang meluas tentang kondisi danau-danau tersebut secara komprehensif. Setidaknya diperlukan adanya semacam “bank data” untuk setiap danau yang menyimpan informasi yang baik tentang karakteristik tiap danau, guna dijadikan alat bantu dalam menentukan rencana pengelolaannya.

Para Peserta Konferensi yang terhormat,

Secara umum, dapat digambarkan bahwa wilayah Kabupaten Luwu Timur, adalah suatu kawasan berpotensi besar dari segi sumberdaya alam yang terletak pada bagian selatan garis katulistiwa, atau tepatnya di antara 2˚03′00″ - 3˚03″25″ Lintang Selatan dan 119˚28′56″ - 121˚47″27″ Bujur Timur.

Daerah ini, merupakan kabupaten paling timur di Provinsi Sulawesi Selatan yang berbatasan dengan Kabupaten Poso - Provinsi Sulawesi Tengah pada bagian utaranya; dengan Kabupaten Morowali - Provinsi Sulawesi Tengah di bagian timur; dengan Kabupaten Konawe Utara dan Kolaka Utara - Provinsi Sulawesi Tenggara di bagian tenggara; dengan Teluk Bone di bagian selatan; dan Kabupaten Luwu Utara - Provinsi Sulawesi Selatan di bagian baratnya.

Luas wilayahnya, adalah 6.944.88 km2 atau sekitar 11,14 persen dari keseluruhan wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, dengan curah hujan yang cukup tinggi, dengan temperatur konstan berada pada kisaran rata-rata 26,9˚ C menurut data Stasiun Meteorologi dan Geofisika.

Keadaan topografi Kabupaten Luwu Timur sangat bervariasi, dengan struktur wilayah yang cukup lengkap, terdiri atas kawasan pegunungan, dataran rendah, pesisir, kawasan danau dan laut, dalam ketinggian antara 0 s/d 1.230 di atas permukaan laut. Secara umum kelerengan wilayahnya, berada pada kisaran 0-2%, 2-15%, 15-30%, 30-40% dan > 40%.

Berdasarkan kenyataan kondisi geografis dan topografis semacam itu, maka sebagian besar wilayah daerah ini dikenal juga sebagai kawasan yang cukup subur dan potensial untuk pengembangan bidang pertanian dalam arti yang luas, disamping keberadaan potensi berbagai jenis bahan tambang yang hingga kini sebagian besar dari padanya belum diolah dan dikembangkan secara optimal.

Kawasan yang tercakup pada “Kompleks Danau Malili”, selama ini diketahui sebagai kawasan yang tidak terlalu subur untuk ditanami dengan tanaman produktif tertentu, meskipun ada di antaranya juga yang terlihat dapat ditanami dengan beberapa jenis tanaman pangan pada beberapa tempat dilakukan secara turun temurun oleh warga, dari waktu ke waktu.

Hadirin yang terhormat,

Dari catatan sejarah kebudayaan, wilayah yang dikenal berjulukan “Bumi Batara Guru” ini, diketahui memiliki jejak perjalanan sejarah dan budaya yang sangat panjang dan kompleks, sekaitan dengan keberadaannya sebagai bekas wilayah Kedatuan Luwu pada masa silam.

Bahkan, berdasarkan bukti-bukti arkeologis yang ada, masyarakat di kawasan ini telah dikategorikan sebagai suatu komunitas yang paling mula berinteraksi dengan kawasan luar. )

Rekam jejak sejarah masyarakat dan kebudayaan, terutama dalam konteks Kedatuan Luwu juga menunjukkan pentingnya kawasan ini dalam sistem ketatanegaraan kedatuan dari masa ke masa, hingga terbentuknya Swapraja Luwu yang menjadi cikal bakal terbentuknya Kabupaten Luwu, dimana Kabupaten Luwu Timur kemudian menjadi daerah pemekaran dari Kabupaten Luwu Utara yang lebih dahulu terbentuk.

Kepemerintahan Daerah Kabupaten Luwu Timur, secara resmi terbentuk berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 7 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Luwu Timur dan Kabupaten Mamuju Utara di Provinsi Sulawesi Selatan dan kemudian diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri RI pada tanggal 3 Maret 2003.

Sejak terbentuknya hingga kini, Kabupaten Luwu Timur telah terbagi menjadi 11 kecamatan, yang terdiri atas 99 desa dan 3 UPT (unit pemukiman transmigrasi), dimana dalam waktu dekat ini akan dilakukan sejumlah pemekaran kecamatan dan desa/kelurahan sesuai dengan kebutuhan.

Karakteristik demografi penduduk di wilayah ini, diketahui agak berbeda dengan karakteristik daerah-daerah induknya, karena sifatnya yang lebih heterogen, dimana masyarakatnya terdiri atas beberapa variasi rumpun budaya, agama, suku dan ras. Jenis rumpun budaya suku bangsa yang bermukim di daerah ini, antara lain terdiri atas: Suku Bugis, Jawa, Bali, Lombok, Makassar, Pamona, Padoe, Toraja dan lain-lain.

Sedangkan anutan agama warga juga cukup bervariasi, dengan kenyataan bahwa penganut agama Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu maupun Budha, sejak lama telah hidup dalam suatu kesatuan hidup yang tenteram dan damai di daerah ini.

Hingga tahun 2008, menurut catatan Polda Sulselbar, Kabupaten Luwu Timur masih tergolong sebagai daerah dengan angka kriminalitas rendah, serta termasuk daerah yang tidak terjadi gangguan kamtibmas yang mengarah pada konflik horizontal.

Jumlah penduduk Kabupaten Luwu Timur (per-Desember 2008), tercatat sejumlah 242.228 jiwa, dengan laju pertumbuhan 3,66 % setahun, pada periode tahun 2003-2008. Tercatat jumlah rumah tangga, sebanyak 56.489 keluarga, dengan tingkat kepadatan 33 jiwa/km2, atau terkategorikan sebagai daerah dengan tingkat kepadatan penduduk terbilang kecil.

Meskipun demikian, jika disimak dari tingkat mobilitas penduduk di daerah ini, maka dapat dikatakan berkecenderungan memiliki dinamika yang cukup tinggi, dimana hal tersebut antara lain disebabkan bahwa Kabupaten Luwu Timur menjadi salah satu daerah penerima transmigrasi yang cukup penting di Sulawesi Selatan, serta keberadaan sebuah industri pertambangan nikel berskala besar yang telah beroperasi sebelum daerah Kabupaten Luwu Timur terbentuk pada tahun 2003. )

Pada kawasan yang bersentuhan langsung dengan Kompleks Danau Malili, di masa yang lalu, atau setidaknya sebelum terbentuknya Kabupaten Luwu Timur, hanya terdiri dari satu kecamatan yang mempunyai wilayah daratan mengelilingi 5 danau yang ada yaitu Kecamatan Nuha, sementara satu kecamatan pesisir yang dialiri sungai yang airnya bersumber dari danau-danau tersebut, yakni Kecamatan Malili.

Sesudah berdirinya daerah kabupaten, maka sesuai tuntutan pelayanan kepada masyarakat telah dimekarkan Kecamatan Nuha menjadi 3 kecamatan (Kecamatan Nuha, Towuti, Wasuponda), sementara Malili dimekarkan menjadi 2 kecamatan (Kecamatan Malili dan Angkona). Secara menyeluruh kawasan tersebut melingkupi 42 desa, dengan kepadatan pendudut terbilang jarang dibandingkan dengan kawasan lainnya di kabupaten ini.

Para Hadirin Peserta Konferensi yang Terhormat,

Komitmen Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu Timur untuk meningkatkan kesejahteraan warganya secara menyeluruh, merupakan bagian dari tujuan pemekaran wilayah dan pembentukan kabupaten, memang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Dengan demikian, maka pihak pemerintah daerah sejak awal penyelenggaraan kepemerintahan di daerah ini, bertekad untuk menggalang sinergitas antar para pihak dari seluruh komponen yang ada dalam masyarakat, termasuk kalangan dunia usaha.

Dengan demikian, maka ditetapkanlah Grand Strategi Pembangunan Daerah, yaitu: (1) Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia yang Berwawasan Wira Usaha; (2) Membangun Infrastruktur yang Handal; (3) Menumbuhkembangkan Ekonomi Rakyat Berbasis Agrobisnis; dan (4) Mewujudkan Kepemerintahan yang Berkarakter Enterpreneur. Keempat strategi dasar tersebut, merupakan misi utama jangka menengah yang harus diwujudkan dalam kerangka pandang ke arah masa depan, dalam kerangka “Visi Menjadikan Luwu Timur sebagai Kabupaten Agrobisnis”.

Penetapan kerangka cara pandang itu, dilandasi oleh realitas potensi sumberdaya alam di seluruh wilayah Kabupaten Luwu Timur, disertai dengan pertimbangan komprehensif untuk senantiasa memperhatikan kesinambungan (sustainability) sumberdaya alam yang dimiliki dari masa ke masa. Meskipun hingga saat ini, Sektor Pertambangan dan Penggalian masih mendominasi struktur perekonomian daerah ini, tidaklah berarti bahwa secara visioner gantungan harapan ke arah masa depan harus dipercayakan pada sektor ini.

Karakteristik sektor pertambangan dan penggalian yang begitu rentan terhadap bahaya kerusakan lingkungan dan eksploitasi berlebihan (over-exploitation) terhadap sumberdaya alam, sesungguhnya bukanlah pilihan yang menarik dalam kerangka pikir yang baik tentang pembangunan berkelanjutan.

Dengan begitu, meskipun saat ini, sektor tersebut masih menyumbang 80,51 % kepada pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Luwu Timur, pemerintah daerah dengan dukungan semua pihak terkait, telah berketetapan hati untuk seterusnya mengembangkan sektor pertanian dalam arti yang luar, meskipun pada tahun 2008, sektor tersebut tercatat hanya menyumbang 12,78 % kepada PDRB Kabupaten Luwu Timur.

Pilihan strategis seperti itu, sudah barang tentu akan kurang populer bagi mereka yang hanya memikirkan pengembangan sumberdaya alam secara membabi buta, namun merupakan keniscayaan yang tidak terelakkan, jika melihat realitas lain yang memberi rujukan bahwa bagian terbesar dari warga Kabupaten Luwu Timur menjalani hidup dan kehidupannya pada sektor pertanian dalam arti luas tersebut.

Realitas lainnya juga memang menunjukkan, bahwa meskipun dampak dari keberadaan pertambangan nikel memacu angka PDRB rata-rata per-kapita Kabupaten Luwu Timur hingga melambung ke posisi jajaran paling tinggi di Provinsi Sulawesi Selatan, namun pada kenyataannya tidak semua warga Luwu Timur dapat menikmati dan bisa terlibat langsung dalam proses produksi dan jasa terkait sektor pertambangan tersebut.

Bapak, Ibu, Saudara-saudara yang Saya cintai,

Secara terbuka dapat dikemukakan dalam forum ini, bahwa pengelolaan Kompleks Danau Malili selama ini belum dilakukan secara komprehensif dan dapat dikatakan berjalan seadanya, mengingat banyaknya hal yang masih simpang siur sekitar pelaksanaan tugas dan tanggungjawab masing-masing pihak yang terkait dan berkepentingan.Perhatian terhadap Kompleks Danau Malili, selama ini boleh dikatakan masih teramat sedikit pada semua tingkatan, maupun dari setiap komponen para pihak terkait dan berkepentingan.

Harus diakui, bahwa bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu Timur sebagai penanggungjawab wilayah tempat keseluruhan Kompleks Danau Malili berada, mengalami tantangan yang sangat berat, disebabkan karena kurangnya perhatian para pihak yang terkait dan berkepentingan.

Pada tingkatan pemerintah pusat dan provinsi, juga harus dapat diungkapkan bahwa masih cukup banyak kesimpangsiuran yang merupakan pertanda lemahnya perhatian terhadap pengelolaan kawasan danau di negeri ini. )

Keterpaduan langkah antara semua jenjang pemerintahan adalah keniscayaan yang harus diwujudkan, seraya melakukan penataan kelembagaan yang cukup efektif guna menangani segala permasalahan danau yang ada di Indonesia.

Sebagai daerah yang baru terbentuk sejak 6 tahun silam, Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu Timur kini sedang memikul tanggungjawab moril maupun materil yang cukup berat untuk dilakoni, sehubungan dengan eksistensi Kompleks Danau Malili yang begitu dikenal dunia dengan segala keunikan warisan dunia yang harus dipertahankan kelestariannya.

Bisa dibayangkan, jika perangkat pemerintah daerah yang begitu terbatas kapasitas dan kompetensinya, dengan tertatih-tatih berupaya merekonstruksi pernak-pernik segala apa yang menjadi keterlanjuran dari masa silam wilayah ini, guna menyiapkan penataan yang sebaik-baiknya terhadap Kawasan Danau Malili, agar dapat dimungkinkan adanya pengelolaan yang baik dan benar.

Cukup banyak permasalahan yang kini harus ditangani oleh Pemerintah Daerah pada saat ini, yang diakibatkan kurangnya pengawasan dari instansi yang berwenang di masa lalu, ketika daerah kabupaten ini belum terbentuk. Penanganan pembalakan liar (illegal logging) kini dilakukan dengan serius dan akan terus dilanjutkan secara simultan.

Pada dekade yang silam, daerah ini memang dikenal sebagai pemasok kayu olahan bagi daerah-daerah lain di sekitarnya, dimana sebagian besar dari bahan bakunya berasal dari hutan-hutan yang berada di sekitar danau-danau yang ada di kawasan itu. Berkat ketegasan yang tidak pandang bulu dari aparat pemerintah dan pihak keamanan, maka sejak beberapa tahun terakhir ini hampir tak terdengar lagi adanya suplai kayu olahan dalam jumlah besar dari kawasan tersebut.

Meskipun dalam pandangan kearifan pemerintahan, diisyaratkan untuk mengemban tanggungjawab moril untuk memikirkan banyak hal yang terkait dengan nasib warga masyarakat yang terlanjur salah dan hanya mampu mengais rejeki dari aktivitas pembalakan yang menjadi profesi mereka selama puluhan tahun.

Memang sangat dibutuhkan ketegasan penegakan hukum yang nyata, seraya mencarikan solusi permanen untuk mencari nafkah yang wajar dan dengan tidak melanggar ketentuan yang ada. Sejumlah langkah konkrit, telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk menangani sejumlah permasalahan yang diperkirakan akan menurunkan kualitas danau-danau yang ada, namun dirasakan masih bersifat parsial dan belum direncanakan dengan baik atau belum ditangani secara terpadu. )

Selain itu, oleh satuan kerja perangkat daerah yang menangani lingkungan dan kehutanan, secara rutin melakukan pemantauan terhadap kondisi danau-danau tersebut, meskipun dengan kemampuan yang begitu terbatas. Dalam rangka penyusunan kerangka besar pengelolaan Kawasan Danau Malili, sangat diperlukan rujukan akademis-ilmiah melalui penelitian dari para ahli yang berkompeten, baik berupa penelitian dasar maupun lanjutan atau bersifat terapan.

Pada saat ini, pemerintah daerah sedang merencanakan kerjasama yang lebih substansial dalam menangani permasalahan danau-danau ini, dengan meminta para stake-holders lainnya, termasuk PT. Inco Tbk, yang terkait dan berkepentingan langsung terhadap danau-danau tersebut untuk proses produksi mereka melalui pembangkit listrik yang memanfaatkan aliran sungai yang bersumber dari danau-danau tersebut.

Kepada perusahaan produsen nikel multi-nasional berskala besar itu, pemerintah daerah telah menegaskan komitmen untuk tetap mendukung keberadaan operasi mereka di wilayah tersebut, sepanjang perusahaan tersebut juga berkomitmen untuk menata kembali kekurangan-kekurangan yang ada selama ini.

Pemerintah daerah, telah meminta agar perusahaan yang telah menambang bijih nikel di kawasan tersebut sejak tahun 1968 silam, dapat melakukan pengkajian-pengkajian ilmiah dalam rangka penyempurnaan sistem operasional mereka, khususnya yang berhubungan langsung dengan pelestarian danau-danau tersebut. )

Memang telah banyak aktivitas pengkajian dan penelitian tentang berbagai hal di Kompleks Danau Malili yang dilakukan PT. Inco Tbk. dengan bekerjasama para ahli profesional, namun dirasakan masih belum memadai jika dibandingkan dengan kebutuhan informasi tentang setiap danau yang ada di kawasan tersebut.

Kompleksitas permasalahan tiga danau yang terhubung secara “kaskade” (melalui sungai kecil dari tempat yang tinggi - Danau Matano, menuju ke Danau Mahalona yang terletak di bawahnya, terus mengalir ke Danau Towuti yang letaknya lebih rendah lagi) itu, memang memerlukan perhatian para ahli, untuk dijadikan bahan bagi pengelolaan kawasan secara baik dan benar.

Dari informasi berupa hasil penelitian dan bahasan akademik yang ada saat ini, entah atas dasar apa sehingga terkesan bahwa Danau Matano mendapatkan perhatian lebih dibanding dengan danau-danau lain yang ada di kawasan tersebut.

Dengan demikian, dapat diungkapkan bahwa peranan penting para ilmuwan secara lintas disiplin untuk mengelaborasi Kompleks Danau Malili dalam pelbagai dimensinya, agar dapat menemukan masukan yang berarti mengenai permasalahan nyata dan apa adanya, demi terwujudnya rencana dan pelaksanaan pengelolaan kawasan tersebut secara tepat dan berdaya guna.

Peranan pemerintah pada semua tingkatan, khususnya peran kebijakan pengaturan dan pengawasan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu Timur dalam era otonomi daerah saat ini, memerlukan dukungan yuridis-konstitusional yang memadai guna menjalankan tugas dan tanggungjawab sebagai “garda terdepan” dalam pengelolaan Kompleks Danau Malili. )

Bila melihat karakteristik permasalahan yang ada, terutama setelah mengingat Kawasan Kompleks Danau Malili secara keseluruhan ataupun sebagian besar wilayah inti sistemnya berada dalam wilayah Kabupaten Luwu Timur, maka Pemerintah Daerah pada saat ini, sedang merancang adanya suatu peraturan daerah yang mengatur pengelolaan danau-danau yang ada di wilayah kabupaten ini.

Dengan keberadaan peraturan daerah yang bersifat mengatur pengelolaan kawasan Kompleks Danau Malili yang secara komprehensif mengakomodasi kepentingan konservasi, pemanfaatan dan pengendalian daya rusak air, maka setidaknya didapatkan kejelasan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan tugas dan tanggungjawab dalam mengatasi permasalahan yang ada.

Para hadirin yang terhormat,

Dalam garis besarnya, dinamika permasalahan yang terlihat menonjol dalam pengelolaan Kawasan Kompleks Danau Malili, masih berada dalam pusaran antara gagasan konservasi yang menginginkan adanya pelestarian secara maksimal terhadap kondisi danau yang eksotis, yang tampaknya selalu berhadap-hadapan dengan gagasan pengembangan kawasan yang berorientasi pada pemanfaatan sumberdaya alam untuk kepentingan ekonomi-kesejahteraan warga sebagai suatu tuntutan pragmatis.

Gagasan pengembangan Kawasan Strategis Nasional (KSN) Sorowako ) misalnya, yang berorientasi kepada kepentingan pendayagunaan sumberdaya alam; pemanfaatan teknologi tinggi; serta memperluas pengaruh ekonomi sampai pada tingkat nasional, perlu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.

Pertimbangan utama gagasan tersebut yang mendudukkan sektor pertambangan sebagai fokus pengembangan, niscaya akan mengalami konflik dengan gagasan konservasi terhadap Kawasan Danau Malili yang juga tak kalah pentingnya dalam menata masa depan wilayah dan kawasan tersebut.

Hal semacam itu, memberikan kita suatu gambaran yang cukup nyata, betapa tidak komprehensifnya gagasan yang dirancang untuk kepentingan bersama pada berbagai tingkatan pengambilan kebijakan, dari pusat hingga ke daerah. Permasalahan yang akan datang kemudian, adalah warga masyarakat dan pemerintah daerah akan menghadapi masalah yang dipastikan akan berkepanjangan, jika hal-hal semacam ini tidak segera ditangani dengan sebaik-baiknya.

Secara umum, kelompok permasalahan yang hadir dalam pengelolaan Kawasan Kompleks Danau Malili dari sudut pandang Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu Timur, antara lain mencakup bidang-bidang yang dapat dikenali karakternya, adalah sebagai berikut:

1. Permasalahan Kehutanan

Dari kondisi hutan yang ada di sekitar danau-danau yang ada di Kompleks Danau Malili, sebagian besarnya relatif masih cukup terjaga, meskipun beberapa bagian tertentu di antaranya telah hilang karena aktivitas penambangan yang berkarakter legal dan ditindak-lanjuti dengan reklamasi, dan aktivitas pembalakan liar yang cenderung ilegal dan dibiarkan terbuka begitu saja.

Pengawasan yang lemah karena keterbatasan sumberdaya aparat, akan membuat aktivitas pembalakan hanya terhenti untuk sementara waktu, dan pada prinsipnya memerlukan peningkatan kapasitas dan kemampuan aparat dan perbaikan metode dan teknik pengawasan hutan yang efektif.

Selain itu, diperlukan adanya solusi kreatif yang bersifat permanen, berupa pengembangan masyarakat untuk pengalihan pekerjaan, serta upaya-upaya lainnya, antara lain memprakarsai pembangunan hutan kemasyarakatan guna menggeser aktivitas pembalak menjadi petani kayu yang menanam jenis-jenis kayu tertentu yang dapat menjadi sumber penghasilannya.

2. Permasalahan Pemukiman

Perkembangan demografis di sekitar kawasan Kompleks Danau Malili menunjukkan adanya peningkatan yang cukup besar, berupa pertumbuhan jumlah penduduk yang datang berbagai tempat, wilayah dan daerah. Kedatangan ini, sebagian besar datang secara mandiri untuk mengadu nasib yang pada mulanya ingin bekerja pada sektor pertambangan dan jasa yang terkait dengan itu.

Meskipun pada akhirnya, tidak tertampung pada sektor tersebut, mereka kemudian mendapatkan penghasilan yang didapatkan dari kerja serabutan namun dianggap cukup untuk bertahan menunggu peluang lainnya. Hal ini, menimbulkan kebutuhan pemukiman yang bersifat sementara yang mengakibatkan tumbuhnya rumah-rumah liar di tepian danau yang cukup membawa masalah bagi kelestarian danau-danau yang ada.

Penanganan terhadap pemukiman liar yang ada di sekitar tepian danau yang ada sejak puluhan tahun silam, memerlukan kerjasama dengan pelbagai pihak guna menemukan jalan keluar yang lebih baik, dari sekadar langkah penggusuran atau pemindahan paksa yang dapat menimbulkan implikasi lain yang tidak perlu.

3. Permasalahan Pemanfaatan Air Danau

Dalam mempertahan kondisi (existing) air danau yang secara umum cukup baik pada saat ini, berbagai upaya dapat ditempuh, dengan perlibatan semua pihak terkait dan berkepentingan, terutama warga masyarakat yang bermukim tidak jauh dari tepian danau.

Pengembangan usaha pertanian dan budidaya perikanan air tawar yang berkelanjutan dengan fokus pengawasan pemanfaatan air dan ruang danau secara lestari, memerlukan perhatian dan keberhati-hatian yang tinggi. Sejumlah ikon keanekaragaman hayati yang ada di dalam danau maupun di lingkungan sekitar danau dengan matarantai makanan dan kehidupannya, perlu dicermati keberadaannya, agar tidak mengalami kepunahan atau terganggu keseimbangan ekologisnya.

Selain daripada itu, permasalahan yang ditimbulkan upaya “pemberatan awan” untuk menghasilkan hujan guna menambah debit air danau pada saat tertentu oleh pihak PT. Inco Tbk. demi kepentingan pembangkit listrik tenaga air yang memanfaatkan air danau pada daerah aliran sungai kaskade danau-danau di kawasan tersebut, hingga kini masih membekas dan masih cukup potensial untuk dipermasalahkan oleh sejumlah warga yang bermukim dan mencari nafkah di wilayah tepian danau. )

4. Permasalahan Sosial Budaya

Realitas sosial budaya masyarakat yang bermukim di kawasan Kompleks Danau Malili, menunjukkan adanya keterikatan yang kuat antara manusia dengan alam yang ada di sekelilingnya, sejak lama dan bahkan turun temurun.

Kearifan lokal yang bertumbuh dalam masyarakat lokal ataupun warga asli di kawasan itu, telah menempatkan eksistensi danau-danau yang ada tersebut, sebagai sesuatu yang sakral dan bahkan menakutkan.

Dikenal berbagai upacara yang bersifat penghormatan terhadap “pemilik” danau-danau, agar mereka senantiasa mendapatkan berkah guna melanggengkan kehidupan mereka. Salah satu sudut danau yang terdapat mata air yang mengeluarkan sangat dingin, dipercaya oleh kalangan tertentu hingga saat ini, sebagai air yang bisa menyembuhkan penyakit kronis.

Dalam konteks adat Kedatuan Luwu, sejak lama tempat tersebut dijadikan sebagai salah satu ikon budaya, tempat para tetuah adat mengambil air suci ketika melakukan upacara kenegaraan jaman dulu. Bahkan, nama-nama danau di kawasan tersebut, melukiskan adanya kisah yang mengakrabkan diri mereka dengan alam dan Sang Penciptanya.

Jika dicermati secara saksama, proses penamaan terhadap danau Nuha, Mahalona, Towuti, Massapi dan Wawantoa memiliki legenda tersendiri yang melukiskan kedekatan dan tanggungjawab yang besar dari masyarakat lokal terhadap nasib danau-danau milik mereka.

Permasalahannya, kemudian masuk jauh ke dalam ranah sosial politik, ketika mereka diposisikan sebagai pihak yang merusak kelestarian danau-danau yang ada, pada saat mereka mencoba mengolah sumberdaya air maupun sumberdaya alam yang ada di sekeliling danau. Dalam sejumlah kasus yang ada, ada di antaranya menolak ganti rugi yang akan diberikan kepada mereka, karena mereka merasa diperlakukan tidak adil, yang nyatanya bukan semata-mata karena merasa nilai nominal ganti ruginya terlalu sedikit. )

Dengan demikian, maka perhatian terhadap keberdayaan masyarakat lokal untuk mengelola Kawasan Danau Malili, merupakan suatu keniscayaan yang dapat dikembangkan dalam berbagai metode dan pendekatan. Inventarisasi terhadap nilai-nilai budaya asli yang bersandar pada kearifan untuk mendukung pengelolaan dan pelestarian danau-danau, tampaknya sudah sangat mendesak untuk dilakukan, guna penyusunan kerangka kebijakan lingkungan sosial budaya dalam pengelolaan danau-danau yang ada.

Para hadirin yang terhormat,

Sebagai upaya untuk mempertegas komitmen Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu Timur dalam kerangka pengelolaan Kawasan Kompleks Danau Malili dengan sebaik-baiknya, yang mencakup keseimbangan pandangan terhadap konservasi sumberdaya alam warisan dunia, dengan pandangan tanggungjawab pengembangannya untuk kepentingan kesejahteraan bersama, khususnya warga di sekitar kawasan tersebut, maka Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu Timur, akan mempersiapkan langkah-langkah stategis, antara lain:

1. Mengambil langkah-langkah yang tegas untuk mengawasi pelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidang kehutanan, khususnya yang terkait dengan “pembalakan liar” di kawasan Kompleks Danau Malili guna meminimalisir dampak penggerusan kawasan hutan yang berimplikasi terhadap fungsi-fungsi danau yang ada di kawasan tersebut.

2. Merancang dan menata perencanaan pembangunan di sekitar kawasan Kompleks Danau Malili, khususnya dalam bidang prasarana dan prasarana, pemukiman dan pengembangan wilayah, termasuk bidang kepariwisataan daerah dengan sasaran minat khusus lingkungan dan budaya.

3. Menjalin kerjasama terpadu dengan stakeholders (pemangku kepentingan) lainnya yang terkait dengan pengelolaan kawasan strategis di sekitar Kompleks Danau Malili pada semua tingkatan, mulai dari pusat hingga di daerah.

4. Mempersiapkan keberadaan Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Timur tentang Pengelolaan Kompleks Danau Malili, yang selaras dengan peraturan perundang-undangan lainnya, terutama yang menyangkut pengelolaan kawasan strategis nasional.

Para hadirin Peserta Konferensi yang Saya hormati,

Sebagai penutup dari pemaparan yang sangat sederhana dan jauh dari nuansa akademik yang kental, meskipun saya telah berupaya untuk mengungkapkan segala apa yang menjadi perasaan dan fikiran kami di Kabupaten Luwu Timur, menyangkut pengelolaan Kompleks Danau Malili tersebut, maka dapat disampaikan kesimpulan dan saran-saran sebagai berikut:

Kesimpulan

1. Belum cukup tersedia hasil-hasil penelitian ilmiah yang bersifat lanjutan, serta dapat memberikan informasi yang bersifat komprehensif mengenai existing (keberadaan) dari problematika komprehensif di Kawasan Kompleks Danau Malili, guna dijadikan bahan bagi penyusunan rencana pengelolaan kawasan.

2. Selama ini, belum terdapat keterpaduan langkah dan kebijakan pemerintah pada semua tingkatan untuk secara bersama dengan para stakeholders (pemangku kepentingan) lainnya, guna menata Kawasan Kompleks Danau Malili dengan sebaik-baiknya.

3. Belum terwujudnya perencanaan yang sebaik-baiknya disebabkan kendala kompleksitas permasalahan dan para pihak yang bertanggungjawab dalam pengelolaan kawasan strategis di sekitar Kompleks Danau Malili.

Saran-saran

1. Agar para pihak yang terkait dengan pengembangan ilmu pengetahuan dapat meningkatkan intensitas penelitian yang bersifat lanjutan dan terapan di Kawasan Kompleks Danau Malili, untuk dijadikan bahan bagi penyusunan kebijakan dan perencanaan secara terpadu.

2. Agar semua pihak yang terkait dan berkepentingan, pada semua tingkatan pemerintahan dapat dengan segera menyusun kerangka strategis pengembangan Kawasan Kompleks Danau Malili, untuk dijadikan rujukan terpadu bagi kebijakan implementatif yang mengikat bagi seluruh stakeholders, termasuk pemerintah pusat-provinsi-kabupaten, dunia usaha dan masyarakat luas.

3. Agar pemerintah pusat dan pemerintah provinsi dapat dengan segera mewujudkan aturan perundang-undangan yang lebih spesifik tentang pengelolaan kawasan danau, khususnya mengenai Kompleks Danau Malili, yang akan dijadikan rujukan bagi penyusunan Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Timur Pengelolaan Kawasan Danau Malili.

Demikianlah pemaparan ini disampaikan dalam forum konferensi yang terhormat ini. Semoga dapat terjadi interaksi positif yang saling mengisi, demi penyempurnaan wawasan terhadap pengelolaan danau secara nasional, khususnya pengelolaan Kompleks Danau Malili yang telah menjadi milik kita dan merupakan kebanggaan bersama. Sekian dan terimakasih.

Bali, 13 Agustus 2009

BUPATI LUWU TIMUR,

H. ANDI HATTA MARAKARMA

CURRICULUM VITAE Pembicara (Speaker) / Moderator

KONFERENSI NASIONAL DANAU INDONESIA I

1st National Conference on Lakes in Indonesia

Bali, August 13-15, 2009

Nama (Name) : Drs. H. Andi Hatta Marakarma, MP.

Pekerjaan (Occupation) : Bupati Luwu Timur

Institusi (Institution) : Pemerintah Kabupaten Luwu Timur,

Provinsi Sulawesi Selatan

Alamat (Address) : Jalan Dr. Sam Ratulangi No. 3, Malili,

Luwu Timur

Nomor Telepon

(Telephone Number) : (0474) 321004 - 321005 - 321006

Email : hatta_andi@yahoo.com

andihatta_marakarma@yahoo.co.id

Latar Belakang Pendidikan(Education Background) :

1. SR di Malili

2. SMP di Makassar

3. SMA di Makassar

4. Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) di Makassar

5. Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) di Jakarta

6. Pasca Sarjana Bidang Pertanian Universitas Hasanuddin

Pengalaman Pekerjaan

(Working Experience) :

1. Kepala Desa Bara, Wara, Kabupaten Luwu

2. Kepala Desa Wawondula, Nuha, Kabupaten Luwu

3. Camat Nuha, Kabupaten Luwu

4. Camat Masamba, Kabupaten Luwu

5. Asisten I Bidang Ketataprajaan Kabupaten Luwu

6. Kepala Bappeda Kabupaten Luwu Utara

7. Penjabat Bupati Luwu Timur

8. Bupati Luwu Timur.

Sumber:
http://sosbud.kompasiana.com/2009/10/31/makalah-bupati-luwu-timur-pengelolaan-kompleks-danau-malili/
Akses tanggal: 04/10/2009

No comments:

Post a Comment