Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Tuesday, March 9, 2010

Mutu Rendah, Lutim Kembangkan Strategi Pendidikan

Harian FAJAR
SELASA, 09 MARET 2010
FIFO
Penilaian Otonomi Award Tahun Ke-2

Luwu Timur (Lutim) telah banyak berubah. Mulai dari pemberdayaan, pelayanan, hingga penyediaan infrastruktur. Kendati memiliki SDA melimpah, namun itu bukan jaminan. Dibutuhkan SDM yang handal.

Bagi yang pernah berkunjung ke Lutim enam tahun lalu, tentunya akan heran ketika menginjakkan kakinya di kabupaten paling ujung di Utara Sulawesi Selatan ini. Betapa tidak, dulu hamparan tanah luas dengan jarak rumah berjauhan, kini mulai nampak beda dari mulanya.

Gedung-gedung perkantoran berjejer rapi dengan arsitek yang cukup modern saat ini menambah suasana kota jadi hidup. Demikian juga arus lalu lintas sudah mulai padat. Suatu pemandangan yang dulunya sulit didapatkan. Perubahan ini tentunya tidak lepas dari berlakunya otonomi daerah sejak 1 Januari 2001 lalu.

Berdasarkan monitoring dan evaluasi (monev) yang dilakukan FIPO menunjukkan bahwa dari sembilan indikator penilaian otonomi award, empat diantaranya yang menonjol yaitu program dari Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan, Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan.

Keempat indikator yang mengemuka itu, program Dinas Pendidikan yang sangat mencolok yaitu Pendidikan Gratis Berkualitas Melalui Tiga Pilar Strategi Pendidikan. Pemilihan program ini dilatarbelakangi rendahnya mutu anak didik yang diukur dengan tingkat kelulusan. Kendati pendidikan gratis telah dimulai sejak 2006, nyatanya tingkat kelulusan Lutim diurutan 22 dari 23 kabupaten/kota di Sulsel atau lebih baik di atas satu kabupaten lainnya.

Atas dasar itulah, muncul pemikiran jika pendidikan gratis bukan jaminan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Lutim. Program ini ditopang dengan tiga pilar strategi pendidikan, yaitu peningkatan dan perluasan akses pendidikan, peningkatan mutu dan daya saing pendidikan, dan peningkatan pencitraan publik.

Pada pilar pertama, Lutim telah berhasil membangun unit sekolah baru (USB) sejak 2004 hingga 2007 di berbagai tingkatan diantaranya SMP delapan unit, SMA tujuh unit, dan SMK dua unit.

Selain itu, juga dibangun USB SD dan SMP satu atap lima unit serta membuka SMP terbuka dua unit. USB ini dilengkapi fasilitas laboratorium, perpustakaan, laboratorium bahasa, pusat sumber belajar dan pembelajaran TIK (kurikulum) bagi guru-guru.

Sedang pilar kedua yaitu peningkatan mutu dan daya saing pendidikan, Lutim memprioritaskan pada peningkatan tingkat kelulusan siswa mulai dari SD, SMP, dan SMA. Upaya yang dilakukan mencapai target dengan melakukan kerjasama dengan UNM dan YPS PT. Inco berupa pembekalan dan pencerahan kepada guru-guru mata pelajaran Ujian Negara (UN), melakukan try out ke sekolah-sekolah khususnya siswa pra ujian nasional (UN) berupa simulasi soal-soal UN yang diakan 3 sampai 4 kali lengkap dengan kisi-kisinya.

Upaya ini membuahkan hasil. Tahun 2008 Lutim berada diurutan delapan tingkat SMA sederajat, urutan lima tingkat SMP sederajat dan 2009 meningkat lagi menjadi urutan tiga tingkat SMA sederajat dan urutan dua tingkat SMP sederajat. Upaya lain yang ditempuh yaitu memberikan beasiswa kepada siswa berprestasi dan meningkatkan jenjang pendidikan guru-guru ke tingkat S1 dan S2 melalui bekerjasama dengan Fakultas MIPA Unhas.

Strategi pada pilar ketiga yaitu peningkatan pencitraan publik dengan menerbitkan perda No. 8 Tahun 2009 tentang pendidikan gratis sebagai sarana peyakinan publik terhadap komitmen pemerintah dalam meningkatkan pendidikan di Luwu Timur.

Upaya Pemerintah Lutim di bidang pendidikan memang tak tanggung-tanggung. Ini dibuktikan dengan anggaran yang dikucurkan melalui APBD meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2006 sebesar Rp79 miliar, 2007 sebesar Rp116,7 miliar, 2008 sebesar Rp161,4 miliar, dan 2009 sebesar Rp182.7 miliar.

Adapun program inovasi yang ditawarkan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan adalah program peningkatan produksi padi dan program pengembangan ternak terintegrasi. Pada program Lutim berhasil mencapai produksi padi padi diatas lima persen seperti yang disyaratkan pemerintah. Pencapaian ini didapatkan melalui pemberian bibit berlabel, jaminan pupuk, teknik tanam legowo, pengaturan air, dan pemberian alat olah, alat tanam, dan alat panen.

Di bidang pemberdayaan, melalui Dinas Koperindag meluncurkan program pemberdayaan industri kecil dan menengah (IKM). Kegiatan yang dilakukan meliputi pembinaan dan pelatihan dan perkuatan modal usaaha. Beberapa produk telah dihasilkan dari binaan ini seperti, abon sapi dan ikan, pembuatan kapal nelayan, anyaman, persuteraan, kompos, produk manisan, keripik pisang, dan lain-lain.

Selain itu, pada indikator kesehatan melalui Dinas Kesehatan menawarkan program kesehatan gratis dengan menfokuskan pada puskesmas rawat inap dan ambulans mayat gratis. Hanya saja, monev yang dilakukan peneliti FIPO lalu di Lutim tidak maksimal. Hal ini dikarenakan tidak adanya pengarah dan pendamping dari pemda setempat sehingga penggalian inovasi sedikit terkendala. (fipo@fajar.co.id)

Sumber:
http://event.fajar.co.id/read/84948/76/mutu-rendah-lutim-kembangkan-strategi-pendidikan

No comments:

Post a Comment